Kamis, 02 Juli 2026

KEROHANIAN PERSAUDARAAN TAWON MADU ( Surah An Nahl ayat 14 )



وَهُوَ الَّذِيْ سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوْا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَّتَسْتَخْرِجُوْا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُوْنَهَاۚ وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيْهِ وَلِتَبْتَغُوْا مِنْ فَضْلِهٖ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ ۝١٤wa huwalladzî sakhkharal-baḫra lita'kulû min-hu laḫman thariyyaw wa tastakhrijû min-hu ḫilyatan talbasûnahâ, wa taral-fulka mawâkhira fîhi wa litabtaghû min fadllihî wa la‘allakum tasykurûnDialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging yang segar  darinya dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.
Penjelasan :Pada Ayat ini Allah memperkenalkan dirinya melalui ciptaannya yang berupa lautan, sebuah maha karya Allah yang luar biasa yang tidak ada seorangpun yang mampu membuatnya. bahkan sampai hari ini masih banyak misteri yang belum diketahui oleh manusia didalam dasar lautan. Selanjutnya, Allah swt menyebutkan nikmat-nikmat yang terdapat di lautan yang dijadikan untuk manusia. Dijelaskan bahwa Allah -lah yang telah mengendalikan lautan untuk manusia. Allah menjadikan banyak manfaat dari lautan untuk manusia berupa segala macam nikmat  misalnya makanan dari lautan berupa daging yang segar, yaitu segala macam jenis ikan, dan hewan laut yang dapat dikonsumsi oleh manusia. pada Ayat ini menggunakan kata daging segar menunjukkan betapa bagusnya pemilihan kata yang digunakan karena bukan hanya ikan tetapi banyak juga jenis hewan laut yang lain yang dapat dikonsumsi,  daging yang segar dapat dipahami pulah bahwa yang boleh dimakan dari segala jenis ikan dan hewan yang terdapat di dalam lautan itu ialah yang ditangkap dalam keadaan segar, meskipun binatang itu mati tanpa disembelih. Akan tetapi, apabila segala hewan tangkapan yang diperoleh itu dalam keadaan tidak segar atau mati yang telah membusuk, maka tidak boleh dimakan karena dikhawatirkan membahayakan kesehatan. Yang dimaksud dengan binatang yang mati di lautan ialah binatang yang mati dengan sendirinya atau karena sebab-sebab yang lain sehingga mengambang di permukaan air, bukan yang mati karena ditangkap oleh manusia. Rasulullah bersabda: مَا نَضَبَ عَنْهُ الْمَاءُ فَكُلُوْا وَمَا لَفَظَهُ فَكُلُوْا وَمَا طَفَا فَلَا تَأْكُلُوْا (حديث ضعيف أخرجه ابو داود و ابن ماجه عن جابر) Semua binatang laut yang mati karena kehabisan air makanlah dan semua binatang laut yang terdampar ke daratan dari lautan makanlah, tetapi binatang yang terapung di lautan janganlah dimakan. (Hadis ḍaīf riwayat Abu Dāwud dan Ibnu Mājah dari Jābir) Ikan yang mati di laut boleh dimakan sebab Nabi Muhammad saw bersabda: هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ والْحِلُّ مَيْتَتُهُ (رواه الأربعة عن أبي هريرة) Laut itu suci airnya dan halal bangkainya. (Riwayat Imam Empat dari Abu Hurairah) Hendaklah dipahami sekali lagi bahwa bangkai binatang air laut yang halal dimakan ialah binatang yang ditangkap oleh manusia, yang terlempar ke daratan, yang mati karena kehabisan air, dan yang masih segar, bukan binatang yang mati terapung di lautan apalagi yang sudah membusuk. Selanjutnya Allah swt menyebutkan nikmat lain yang dapat diperoleh manusia dari lautan, yaitu berupa perhiasan. Di antaranya adalah mutiara dan marjan. Mutiara adalah perhiasan yang diperoleh dari dalam tubuh sejenis lokan/Kerang yang proses kejadiannya dimulai dengan masuknya semacam benda keras, pasir, atau benda asing lainnya ke dalam tubuh lokan/kerang. Karena sangat mengganggu bagi organ-organ tubuhnya, lokan/kerang mengeluarkan semacam cairan yang dapat mengeras untuk membungkus benda keras itu. Proses itu berlanjut terus-menerus sehingga lama-kelamaan terbentuk semacam benda bulat dan mengkilat, warnanya putih kebiru-biruan, kemerah-merahan, atau kekuning-kuningan yang sangat indah dipandang mata. Benda itu dikeluarkan oleh manusia dari lokan tadi, ada yang kecil dan ada yang besar sesuai dengan lamanya benda tersebut dalam tubuh lokan itu. Itulah yang dimaksud dengan mutiara. Perhiasan yang lain adalah marjan, sebangsa tumbuh-tumbuhan yang hidup di dasar laut dan mirip dengan karang. Marjan itu diambil oleh manusia dari lautan dan dibuat menjadi kalung, gelang, atau perhiasan lain yang sangat indah. Semua itu berupa nikmat Allah yang diberikan kepada manusia yang tiada ternilai harganya. Nikmat lain yang diberikan kepada manusia dari lautan ialah mereka dapat menjadikannya sebagai sarana lalu lintas pelayaran, baik oleh kapal layar ataupun kapal mesin. Kapal-kapal itu hilir mudik dari suatu negara ke negara lain untuk mengangkut segala macam barang perdagangan sehingga mempermudah perdagangan antar negara tersebut. Dari perdagangan itu, manusia mendapat rezeki karena keuntungan yang diperolehnya. Nikmat-nikmat Allah itu disebutkan agar manusia mensyukuri semua nikmat yang diberikan Allah kepada mereka. Juga dimaksudkan agar manusia dapat memahami betapa besar nikmat Allah yang telah diberikan pada mereka dan memanfaatkan nikmat yang tiada tara itu untuk beribadah kepada Allah dan kesejahteraan mereka sendiri.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEROHANIAN PERSAUDARAAN TAWON MADU ( Surah An Nahl Ayat 17 )

  اَفَمَنْ يَّخْلُقُ كَمَنْ لَّا يَخْلُقُۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ ۝١٧ a fa may yakhluqu kamal lâ yakhluq, a fa lâ tadzakkarûn Maka, apakah (A...